Senin, 28 Maret 2016

ANTARA RENKING DAN REALITA


Oleh. PILIPUS ROBAHA

18 tahun sudah semenjak tumbangnya resim yang sangat otoriter dan juga fasis dibawah pimpinan sang jendral bintang tiga, Soharto. Atau yang lebih dikenal pada  kalangan aktivis Indonesia sebagai Boneka milik Negara kapitalis, Amerika Serikat. Indonesia dengan jumlah penduduk 230 juta manusia berhasil menempati posis ke 3 di dunia sebagai Negara berdemokrasi terbaik setela India dengan jumlah penduduk 1.2 miliar manusia. Sedangkan sang Kapitalis dunia, amerika serikat  menempati renking pertama Negara domkrasi terbaik dunia dengan jumlah penduduk 340 juta.

Selasa, 22 Maret 2016

TEROR: SEKJEN GempaR DI CARI INTELJEN KOREM DI KAMPUS HINGGA DI UNDANG KE POLDA PAPUA

Berikut adalah Kronologis disampaikan oleh Samuel Womsiwor (Sekjen GempaR)

1.       Hari selasa, 15 Maret 2016, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP-Uncen menemui saya, sekitar pukul 09.00 WP. Dengan tujuan meminta nomor Handphone saya. Tetapi alasan keamanan, saya memberikan nomor lama saya. Yang meminta nomor saya, katanya salah satu pimpinan di Korem Padang Bulan, John Dahar, dengan alasan setiap aksi-aksi mahasiswa selalu di bantu(Backup) olehnya.

2.       Hari Jumat, 18 Maret 2016

Senin, 15 Februari 2016

TAKUT LAWAN MIFEE KARENA SUANGGI

Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) adalah salah satu mega proyek yang diresmikan pemerintah pada tahun 2010, bertujuan untuk memperkuat cadangan pangan dan bio energy nasional, agar siap memasuki pasar pangan dunia.

Sabtu, 13 Februari 2016

FOTO-FOTO RAJA SAWIT DAN PENGUNDUL HUTAN DI BOVEN DIGOEL (PT KORINDO GROUP)

BISA DI BACA DI LINK INI 
http://gemparpapua2013.blogspot.co.id/2016/02/peta-perusahaan-sawit-di-boven-digoel.html


 PINTU II TEMPAT MASUK BURUH

Kamis, 11 Februari 2016

PETA PERUSAHAAN SAWIT DI BOVEN DIGOEL



Hari ini di Papua kita bersama telah mengikuti proses pengadilan masyarakat Nabire dan perusawan sawit PT Nabire Baru yang telah merampas hak-hak masyarakat. Semua masyarakat beranggapan bahwa ancaman perusawit hanya pada masyarakat nabire saja, atau hanya di wilayah Papua bagian utara. Namun ternyata justru Perusahaan Sawit di Nabire adalah salah satu dari ratusan perusawan sawit yang berinvestasi di Papua. Kita sebut saja, Sorong, manokwari, Bintuni, Fak-fak, Nabire, Jayapura, Kerom, Sarmi, Merauke, Asmat, Mapi, Yahukimo, hingga Boven Digoel. Hampir semua daerah di Papua telah menjadi daerah investasi kelapa sawit.

Boven Digoel adalah salah satu daerah yang luput dari pemberitaan karena sangat rapi dan tertutup, baik informasi hingga data,  padahal diwilayah Boven Digoel tidak hanya perusahaan Sawit samata melainkan perusahaan kayu yang telah menghabisi hutan diwilayah itu. Perusahaan tersebut adalah PT Korindo Group di Asiki yang telah beroperasi dari tahun 1990. Pada tahun 1998, Korindo mengantungi izin untuk menam kelapa sawit di dua wilayah dekat Asiki. Pada awalnya ada penolakan oleh masyarakat asli, namun karena siasat Korindo membuat masyarakat berpindah dan memberikan lahan  tersebut.

Kontras melaporkan bahwa pada tahun 2004, anggota militer rutin dibayar oleh Korindo untuk menjadi pasukan pengaman, sebagai kespakatan yang disusun oleh para pimpinan TNI dan Korindo di Jakarta. Tentara juga mendapatkan pemasukan tambahan dari usaha minuman keras, serta memaksa warga menyerahkan barang berharga seperti kulit buaya, tanduk rusa, atau ikan arwana.

Saat ini, anak perusahan Korindo yang bergerak di sector kelapa sawit, PT Tunas Sawaerma, tengah mengajukan izin untuk memperluas areal perkebunannya hingga 20.000 hektar. Kuat dugaan bahwa Korindo sedang mengusahkan untuk meperbesar wilayahnya disepanjang jalan trans Papua, mulai dari Asiki, melewati Tanah Merah hingga Minditanah. Perusahaan yang siap bekerja sama dengan Korindo adalah PT Wahana Agri Karya, PT Duta Visi Global, dan PT Visi Hijau Nusantara, informasi terkait kepemilkannya masih di rahasisakan.

Menara Group

Salah satu perusahaan yang sedang menjalankan proyek secara misterius di Boven Digoel adalah Menara Group yang di pimpin pengusaha Indonesia bernama Chairul Anwar. Mantan Kapolri sekaligus Duta Besar, Dai Bactiar, tercantum sebagai salah satu anggota dewan eksekutif perusahaan. Perusaaan ini telah mendapat izin beroperasi di lahan seluas 400.000 hektar dilahan milik suku Auyu yang sebagai besar adaah hutan primer.

Semua perusaan yang beroperasi di Boven Digoel saat ini telah mendapatkan Sk beroperasi oleh pemerintah baik pemerintah Pusat maupun di Kabpuaten (bupati). 
(Bersambung)

Ditulis oleh, Pak RT

Minggu, 07 Februari 2016

Tra smua Komen is Frends Tra smua amber is Enemy (mahasiswa dan gerakan dalam Dukumen BIN 2014)

Pernah dengar dan lihat kata diatas? Kurang lebih artinya adalah tidak semua orang Papua adalah kawan dan tidak semua non Papua adalah musuh. Entah apa tujuan kelompok pemuda yang mengeluarkan kata ini. Tetapi menurut saya Kata-kata ini perlu dimaknai mendalam bagi para aktivis pejuang Papua merdeka. Agar informasi perjuangan dan security pribadi dan kelompoknya nya tidak menjadi konsumsi musuh dan membahayakannya. Saya pikir sudah saatnya menentukan standar pertemanan kita dengan semua orang, baik antara kita orang Papua maupun non Papua.
Ini bukan ajakan rasialis. Tetapi kebijaksanaan dalam perjuangan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa “Papua Merdeka” selalu menjadi isu empuk untuk dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Pihak itu adalah orang Papua sendiri. Ada yang berjuang dengan segala daya dan tenaga, rela mengorbankan jiwa raga namun ada yang memanfaatkannya untuk kepentingannya pribadi dan kelompok. Secara teori kontra revolusi adalah sah-sah saja atau penghianatan sudah tentu bagian dari perjuangan. Tetapi kebijaksaan kitalah akan menggerakan revolusi.
Perjuangan politik adalah luas dimiliki semua rakyat Papua. Tetapi dalam konteks ini saya sampaikan kepada para pejuang yang memiliki ideology sejati. Para mahasiswa yang tidak ada letih-letih dalam melakukan konsolidasi disaat pudarnya asa perlawanan mahasiswa di Papua. Tetaplah seperti itu.
Dalam minggu ini Papua dikejutkan dengan bocornya document BIN di media Australia. Berita yang diberi judul Rencana Aksi Opsgal Papua Maret 2014 Telah menjadi boleh panas di antara masyarakat Papua tetapi bagi para aktivis pejuang yang namanya berada di dalam. Namu saya akan lebih khusus berbicara terkait gerakan mahasiswa dan aktivis mahasiswa yang menjadi target operasi. Nama saya memang dicantumkan disitu, dan hanya saya mahasiswa yang namanya disebarkan di media, sebenarnya ada beberapa mahasiswa baik di Papua maupun di pulau Jawa yang menjadi target operasi.
Miras, perempuan, dan Uang, itu adalah alalisis dalam dokumen (BIN) tentang semua aktivis perjuangan. Entah benar dan tidak benarnya pemebriataan itu telah menjadi bola liar dikalangan aktivis maupun masyarakat. Target BIN tersebut sukses? Tentu saja. Walaupun kita tidak harus menyangkal dokumen tersebut tetapi tidak juga mempersalahkannya. Karena terkait dengan dokument tersebut memang terlihat BIN mendapat semua informasi tersebut dari orang dekat kita. Sehigga kebijaksaan dalam pertemanan memang harus sudah diutamahkan sejak saat ini.
Saya misalnya dikatakan “Dengan memanfaatkan ‘agen – agen’ BEM Uncen, beberapa kegiatan dirancang untuk melemahkan Yason Ngelia, mulai dari membangun komunikasi, cipta opini, press release, studi banding ke ICW, Bappenas, BEM UI, Arup, dan Bemnus juga menggelar seminar sehari optimalisasi peran GEMPAR dalam mengawal pembangunan di Papua, dengan goal minimal Yason Cs tidak mempermasalahkan UU Otsus Plus dan target maksimal mendukung UU Otsus Plus dalam NKRI. Saya tidak menyangkalnya namun juga tidak bisa membenarkan semua hal tersebut. Biarlah seperti itu.
Apa artinya semua ini? Yaitu bahwa semua gerak-gerik aktivis mahasiswa di Papua sedang di amati. Apa artinya di amati? Karena adanya ketakutan terhadapan perlawanan mahasiswa oleh pihak penguasa. Mahasiswa Papua adalah satu kekuatan dari sekian kekuatan yang di miliki rakyat Papua. Sehingga ada target secara individu atau kelompok, minimal kita tidak menjadi oposisi pemerintah. Sebaliknya kita di harapkan dapat mendukung semua kebiajakan pemerintah di Papua dan tentu saja mendukung eksistensi NKRI di Papua.
Kawanku para pejuang mahasiswa dimanapun. Walapun asa sepertinya tidak memihak pada kita. Kawan-kawan kita diculik dari jalur perlawanan kita. Mereka takluk pada hegemoni, dan hedonis kekuasaan. Memilih hidup tanpa beban, seperti menutup mata terhadap pemusnaan ras kita. Tetapi ingat bahwa jiwa kita takan lemah karena hal itu. Kita tetap lawan untuk mengakhiri !
Salam Revolusi !
yason Ngelia

Rabu, 03 Februari 2016

FAKTOR LEMAHNYA PERLAWANAN IDEOLOGIS MAHASISWA DI PAPUA

Fakta klasik yang selalu menggambarkan siapa itu mahasiswa dan peran seperti apa yang selalu dimainkan anak muda ini, dalam rangka menyelamatkan rakyat dan bangsanya. Agen of Social controle, Agen of change, Iron Stock, dan sebagainya. Istilah seperti ini muncul bukan semata-mata karena kecerdasaan mahasiswa di dalam kelas. Melainkan mahasiswa berhasil menerjemahkan teori dalam sebuah tindakan nyata. Sebab teori yang telah diterima bertolak belakang dengan realitas kehidupan rakyat dan bangsa, sehingga mahasiswa hadir memikul beban terseubut. Secara teori mahasiswa adalah kelompok penekan (pressure grup) supra struktur politik dalam suatu Negara.
Contoh adalah, mahasiswa Indonesia yang telah menorehkan sejarah dengan tintah emas kisah perlawanan mereka. Mahasiswa Indonesia itu dikenal dengan angkatan 1908, angkatan “45”, 60, 70, 80, dan 98. Tanpa mahasiswa dan pemuda itu tidak akan ada negara bernama Indonesia atau kebebasan seperti sekarang ini. Atau juga Timor lesta yang mengirim seorang pemuda mahasiswa yang bernama Ramos Horta pada tahun 1970 an untuk mengalukan lobi dan diplomasi ke Australia hingga dunia, hingga bagaimana mahasiswa timor leste membangun jaringan dan kerja sama dengan mahasiswa Indonesia di kota-kota besar diseluruh Indonesia hingga berhasil menginternasionalisasi isu Timor Leste. Mereka akhirnya referendum dan merdeka.
Bagaimana dengan Papua?
Gerakan perlawanan mahasiswa Papua sejatihnya adalah gerakan politik menuntut kemerdekaan. Segala upaya, daya, dan strategi akan bermuara pada satu tuntutan tersebut. Kalaupun ada yang lain adalah “buah tangan” intelejen Indonesia untuk memecah belah gerakan perlawanan mahasiswa di Papua. Sejarah gerakan Politik mahasiswa Papua sendiri adalah sebuah tranformasi dalam perjuangan Papua yang selama ini berada pada pundak para pejuang, noteben adalah pelaku sejarah. Gerakan mahasiswa Papua secara murni mulai bangkit di era 1990an dan puncaknya pada reformasi 1998 dengan muncurlnya organisasi perlawanan di pulau jawa.
Sedang hari ini di tanah Papua, perlawanan mahasiswanya seperti sedang mati suri. Seminar politik, Seminar HAM, diskusi politik, diskusi lintas asrama, diskusi antar kampus, seperti mengalami banyak hambatan. Ada beberapa factor yang menurut saya mengalami persoalan dan itu berada pada mindset aktivis mahasiswa di Papua khusus di beberapa kota di Papua. Beberapa factor itu saya membagi dalam beberapa poin, antara lain:
1. Idelisme namun tidak ideologis
Aktivis mahasiswa seperti ini menjadikan gerakan mahasiswa sebagai tempat belajar berbicara, memperoleh informasi seputar perjuangan Papua untuk di eksploitasi demi kepentingan pribadi, tidak sedikit juga yang mendorong aksi perlawanan yang hanya mencari sensasi dan popularitas. Baik dikelas maupun di kelompok masyarakat. Biasanya mereka mempersoakan konflik di Papua tetapi tidak menjadikannya beban sebagai anak negri.
2. Memilki jiwa yang lemah
Perjuangan kemerdekaan Papua adalah perjuangan yang lahir karena kesadaran yang mendalam. Sehingga persatuan, nasionalisme, hingga ideology yang tumbuh benar-benar nyata dalam masyarakat Papua. Entah dia masyarakat akar rumput, bahkan pejabat daerah. Demikian dengan para aktivis mahasiswa yang adalah “Iron Stock” dari perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Sehingga sekali melangkah kedalam gerakan mahasiswa dan perlawanannya ada sebuah pantangan “mundur adalah sebuah penghianatan”. Beralih profesi dari seorang aktivis mahasiswa pro kemerdekaan Papua ke dalam sistem NKRI adalah penghianatan, ini hanya terjadi kepada orang yang lemah jiwanya, ideologinya tidak tumbuh, karena tidak memiliki keyakinan kepada dirinya bahkan Tuhan. Tipe seperti ini sebaliknya tidak mudah bergaul dengan orang yang berbeda pandangan karena muda diperngaruhi, dan dibujuk rayu.
3. Direkrut oleh organisasi pemuda NKRI (KNPI) dan Cipayung
Mengapa kami menulis ini? Ada dua alasan, pertama, perjuangan Papua adalah perjuangan idelogis, perjuangan terbuka, untuk mendidik masyarakat Papua tentang ideology politik itu sendiri. Hal tersebut adalah salah satu tugas mahasiswa dalam perjuangan. Sedang organisasi pemuda ini sebaliknya mendidik pemuda mahasiswa untuk menerjemahkan perjuangan rakyat Papua dalam bingkai NKRI. Idelisme mereka tidak ideologis mereka melakukan kontra revolusioner perjuangan Papua. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan AD/ART organsiasi masing-masing yang mengikat setiap kadernya, setiap kegiatannya menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sebagainya. Para Senior organisasi ini (elit) mendidik mereka untuk anti akan gerakan politik. Alasan kedua, menurut data informasi yang kami terima, organisasi ini adalah alat operasi intelejen untuk mengobrak abrik gerakan perlawanan mahasiswa di Papua beberapa tahun terakhir. Organisasi ini kami percaya bahwa apa bila Indonesia masih dibawah kolonialisme Belanda, organisasi tersebut di atas adalah organsasi buatan Belanda. Sebab mereka telah didik menjadi elit bojuis dan anti rakyat sendiri.
4. Kurang paham penting organisasi politik mahasiswa
Kurang ada kesadaran akan pentingnya perlawanan bersama (organisasi). Mahasiswa Papua cenderung menutup diri terhadap perlawanan politik, tidak bersedia mengemban tanggunjawab dalam organsasi. Sebaliknya mahasiswa lebih memilih menjadikan organisasi mahasiswa, Badan EKsekutif Mahasiswa (BEM) di kampus sebagai organsasi gerakan, sedang notaben organisasi ini adalah organsasi yang terbatas masa waktu bagi pengurusnya. Ketika turun maka mereka akan kehilangan pijakan. Organiasi seperti ini seharusnya hanya digerakan dengan sumer daya terbatas tetapi tidak menjadi kekuatan politik. Demikian.
Gerakan perlawanan mahasiswa di Papua harus bangkit segera. Harus mampu belajar dari catatan sejarah mahasiswa di dunia. Dalam segela keterbatasan, baik biaya, bahkan technology yang terbatas, namun jiwa perlawanan, jiwa pemberontakan mereka melawan kolonialisme dan imperialisme penjajah itu sangat perkasa. Sebab mereka memilki ideology dalam perjuangan.

Salam Revolusi, Kita Lawan untuk Mengakhiri !
Yason Ngelia